tidakLah berdosa

February 4th, 2009 by hypocrites

anda tidak akan jatuh ke daLam dosa hanya karena kLik disini saja

buku baru saya

April 21st, 2008 by hypocrites

saya suka menuLis. saya suka corat-coret. saya suka mencoba haL2 baru. saya mudah bosan. saya suka gonta-ganti buku. saya sudah agak bosan dengan buku friendster saya ini. sekarang saya sedang menjajaL buku baru di wordpress. siLakan mampiR kaLau sempat. jangan Lupa, Leave comments…. terima kasih.

buku baru saya

pagi itu di Sukamantri

March 10th, 2008 by hypocrites

Dedaunan yang basah memancarkan semburat
warna keperakan disirami cahaya mentari pagi sementara warna keLabu tampak
menggantung maLas di bentang Langit di atas kepaLa kami. WaLaupun pagi itu tak
terLaLu dingin dan hujan pun beLum Lagi turun, beberapa dari kami menggigiL
merutuki kaos warna orange – yang tak Lagi oranye – yang tak hanya basah kuyup,
tapi juga penuh Lumpur – bau, berat, dan menyesap habis panas tubuh kami.

SeheLai sLayer
yang menutupi mata kami tak Lagi sanggup menyembunyikan semua rasa yang
tercampur aduk, siap untuk dimuntahkan kapan saja. LeLah, dingin, kantuk. KekesaLan,
amarah, kebencian, semua tertuju kepada mahkLuk-makhLuk yang menyebut diri
mereka panitia. Mereka yang tampaknya
tak terhaLang rasa LeLah, dingin, apaLagi kantuk untuk berteriak, memaki,
menendang, mendorong, menyeret, menampar dan memerintah kami push up, sit up, back up, bending,
serta merangkak, merayap, guLing-guLing, semuanya di tengah Lumpur yang
menggenang.

Sampai saat terakhir pun kami masih diseret
dan didorong kesana kemari. Hingga ketika insruksi membuka sLayer yang menutupi mata kami dikeLuarkan, pemandangan di depan
mata kami membuat rasa kaget, Lega dan puas membuncah, mengaLir di setiap kapiLer
daLam tubuh kami. Semua teLah berada pada posisinya daLam barisan masing-masing
– Siswa serta panitia dan senior. Dua bendera membentang agung menandakan satu apeL siap diseLenggarakan.

Berat carrier
masih menggantung di pundak kami. Dingin masih merayapi kuLit kami. Tapi semua
itu tak Lagi mengusik kami. Pikiran kami hanya terfokus pada protokoL yang
membacakan nama kami. Dan nomor yang akan mengiringinya. Satu per satu kami
dipanggiL. Satu demi satu kami menanggaLkan atribut siswa yang meLekat pada
tubuh kami. Satu per satu kami mengenakan seragam biru, khidmat mencium sang
saka Merah Putih dan bendera STAPALA yang mendampinginya. Hingga akhirnya warna
merah gagah meLingkar di Leher kami semua.

Di Sukamantri, 24 Februari 2008, kami
diLantik.

STAPALA – Never Ending Adventure

mengejar harap…

March 10th, 2008 by hypocrites

Sekali
dalam hidupku ada sebentuk harap yang menyapa

Harap
itu datang tiba-tiba, dalam kelebat butir waktu yang tak terindera

Harap itu tidak tersenyum

Ia hanya diam lekat menatap

Kemudian berpaling dan berlalu

Berlari kencang tanpa sekali menoleh

Aku mengejarnya

Harap tidak memintaku

Tapi aku mengejarnya

Aku tak tahu apakah ia membolehkan

Tapi aku mengejarnya

Harap berlari kencang tanpa sekali menoleh

Aku terus mengejarnya

Ketika aku jatuh terduduk, kulihat ia
disana

Dalam keangkuhannya, berhenti menatap dalam
diam

Menanti

Harap tanpa diduga kembali menyapa

Demikian selalu terulang

Harap itu membentangkan lengan seolah
hendak menyambutku

Namun saat aku bangkit, ia kembali
berpaling

Demikian selalu berulang

Sekali itu kusadari keresahan Harap

Harap tak ingin aku berhenti mengejarnya

Lelah mengejar harap

Dalam keangkuhannya

Dan sepinya…

mentaL iLLneSs

February 27th, 2008 by hypocrites

seakan orang tak peduLi bahwa aku mengasihi mereka, bahwa aku mengkhawatirkan mereka,,, seoLah bagi orang tak ada artinya biLa tak ada kasih dan perhatian daLam intensitas yang sama bagiku.. seoLah semua harus timbaL baLik.. pun biLa aku kecewa, ternyata aku juga teLah mengkhianati diriku sendiri.. semua emosi ini tak ada gunanya, sepenuhnya aku sadar… tapi jiwaku gemuruh ini tetap ada.. siap meLuap kapan saja.. maaf atas ketidakstabiLan ini… aku masih bertanya-tanya, untuk apa aku ada…
saat aku tak ada, akankah seseorang merindukanku?

ciremai, 1-4 Februari 2008, takkan terLupa [pReLude]

February 12th, 2008 by hypocrites

Dengan ketinggian 3.078 mdpL, Ciremai dikenaL sebagai gunung tertinggi di
Jawa Barat. Terdapat 3 jaLur yang dapat ditempuh untuk mencapai puncaknya : Linggarjati,
Apuy, dan PaLutungan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan
untuk mengambiL jaLur yang pertama, jaLur Linggarjati. JaLur ini memiLiki waktu
tempuh paLing singkat (normaL 6-8 jam) dengan konsekuensi medannya yang Lebih
berat dan menantang ( baca = menyiksa).

Sejujurnya, saya menyadari bahwa hampir semua orang – baik panitia maupun bukan
– menyangsikan keputusan kami untuk mendaki Ciremai. SeLepas Mabim ORAD, waktu
efektif kami untuk mempersiapkan dan me-manage
perjaLanan menuju Ciremai ini tak Lebih dari 5 hari. Bahkan, hingga waktunya
kami harus mempresentasikan outLine
perjaLanan, sebagian dari kami masih harus mengurusi pengembaLian aLat-aLat
yang dipinjam dari mapaLa Lain yang digunakan seLama pengarungan sungai
Citarum. BeLum Lagi waktu untuk Latihan fisik yang tergoLong kurang masih
terpotong karena hari hujan atau personiL tim jatuh sakit.

Saat membaca data-data Ciremai, beruLang kaLi saya menyerukan sumpah
serapah. Dengan ketinggian 3.078 mdpL, basecamp
Linggarjati terLetak di ketinggian 580 mdpL . beLum Lagi kondisi Ciremai yang
mengharuskan kami membawa banyak persediaan air karena sumber air terakhir
terdapat di Pos I – Cibunar (750 mdpL). Akhirnya diputuskan, cowok-cowok
membawa 4 botoL air dan cewek 3 botoL, masing-masing berisi 1,5 Liter.
Terbayang kan beratnya? Fakta tersebut, dikombinasikan dengan kondisi jaLur
yang terjaL (kabarnya dengan sudut kemiringan mencapai 70 derajat) dan kondisi
tubuh yang kurang fit akibat minim Latihan dan istirahat, jujur saja saya
sendiri tidak yakin siap mendaki Ciremai.

Kamis maLam sebenarnya saya ingin menuntaskan packing tapi usai membagi Logistik sesuai jumLah dan beban yang
ditanggung tiap personiL tim (excL. Pendamping), hujan turun dengan derasnya.
Beberapa barang masih tertinggaL di kos sementara carrier yang saya pinjam dari Carok diangkutnya ke posko. dan saat
hujan reda, waktu sudah menunjukkan pukuL 01.00 jadi saya putuskan untuk
istirahat dan packing hari
berikutnya, usai kuLiah. Sayang, Lagi-Lagi hujan deras turun, bahkan sampai jaLanan
sekitar kampus banjir setinggi mata kaki (di beberapa tempat bahkan mencapai
betis) dan saat hujan reda, saya harus mengurusi foto koLektif keLas untuk
keperLuan ijasah sampai jam 4 dan baruLah saya bisa puLang dan mengambiL
barang-barang yang harus dipacking. Serba sibuk, hectic dan terburu-buru. Sempat saya ditegur seorang senior –
Butho, “Harusnya Lo packing dari semaLam.”
Yaaah…. saya mengerti itu… my
mistake…

Sekitar pukuL 6 sore saya siap dan begitu puLa rekan 1 tim saya, yang sudah
bergerak mencari carteran angkot untuk transportasi ke Kampung Rambutan. pukuL 19.15 angkot datang
dan seteLah memasukkan semua carrier
ke daLam angkot, kami berkumpuL untuk berdoa bersama dan tos menyerukan “STAPALA
JAYA!!!” diLanjutkan dengan pamit-pamitan, saLam-saLaman dan sungkem-sungkeman
(eh?).

“Jangan mati ya!” ituLah saLah satu pesan yang saya terima dari kawan saya,
Codot. Saya ingat, pesan itu juga yang saya ucapkan pada Vjay sebeLum ia
berangkat ke Leuser. Tapi ternyata terasa berbeda saat pesan tersebut ditujukan
pada saya sendiri. Rasanya makin mengingatkan pada berat medan yang akan kami
tempuh. Makin memperparah mentaL iLLness saja.
beLum Lagi Udik yang berpesan, “Jangan nyusahin orang ya…” Ah! Kenapa sih
tiap kaLi saya mau naik gunung seLaLu saja ada yang berpesan seperti itu? duLu
waktu pendakian umum ke gunung Gedhe juga OcoL memandangi saya dari ujung kepaLa
sampai ujung kaki LaLu berkata,”Jangan ngerepotin orang ya…” siaL!

sudahLah! Pokoknya semangat!

pukuL 19.36 kami berangkat.

Tim 1 terdiri dari Di’i, Asigeboy, Conan, Becex, BantaL, Cemet dan
pendamping Reman793, Gerwani813 dan Nesting817. Sementara Tim 2 terdiRi daRi
Depex si muLut stereo, Bramus si penyakit sore, PenthoL si sok genit, Bejot boozz-nya On CLinic, Tepi the
negotiator
, Moset si muka kardus (aLL
comment by Gbg
) dan saya tentunya, dengan pendamping Gobog787 (kRibo nyoLot),
Dosko802 sang menteri keuangan dan konsumsi, serta Petoy815 yang suLit
dideskRipsikan. Tapi pak Dosko yang seharian ngantor memutuskan untuk berangkat sendiri dan menanti kami di Linggarjati.

Sekitar pukuL 20.24 kami sampai di terminaL Kampung Rambutan dan Tepi muLai
menunjukkan kepiawaiannya mengajukan penawaran sehingga kami dapat menekan
pengeLuaran kami dari segi transportasi.

pukuL 22.16 kami meLaju dengan bus Dewi Sri menuju Cirebon diiringi musik
dangdut berbahasa Sunda. Ouch!

Saya yang sebenarnya LeLah jiwa raga hari itu, menjeLang tengah maLam baru
bisa tidur dan baru saja memasuki tahap LeLap saat bus memasuki terminaL
Cirebon pada pukuL 3 pagi. Masih berusaha meraup kembaLi kesadaran, kami
menurunkan Carrier dan mencarter
angkot untuk menuju basecamp Linggarjati.
sebeLumnya, kami menyempatkan diri untuk membeLi nasi jambLang khas Cirebon
(sepertinya satu kLan dengan nasi kucing khas angkringan tapi berbeda sambaLnya
dan dibungkus dengan daun jati). Karena keterbatasan dana, kami hanya membeLi 5
bungkus untuk tiap tim. Yaaah… pakai cara Lama Lah…

Itu pun tim 2 sempat terancam bataL makan karena usai menurunkan carrier, angkot meLaju pergi meninggaLkan
kami yang bersiap untuk makan, kami baru menyadari kaLau bungkusan nasi jambLang
tersebut LoLos dari sweeping dan
tertinggaL di daLam angkot!!! Kecewa Langsung terukir di wajah anggota tim 2,
sambiL sesekaLi meLirik penuh nafsu ke arah tim 1 yang masih memegang erat
bungkusan nasinya. Perut pun makin meLiLit rasanya, karena maLam sebeLumnya
kami memang tak sempat makan. Untungnya, tiba-tiba terdengar deru mesin dan
hooo…. ternyata sang kenek angkot yang baik hati menyadari keberadaan
bungkusan tersebut dan mengantarkannya kembaLi ke basecamp. Horeeee…. jadi makan!!

Rencana awaL tim 1 akan mendaki pukuL 05.00 dan tim 2 pukuL 06.00 tapi
ternyata basecamp baru buka pukuL
07.00 jadi seteLah bapak Dosko datang pukuL 5 pagi dan semua seLesai shoLat,
kami memutuskan untuk masak nasi dan mie (menu wajib) karena ternyata 5 bungkus
nasi jambLang porsi dobeL yang masing-masing seharga 2000 perak itu tak mampu
mengganjaL perut kami. Tapi saya sendiri hanya makan 1 sendok karena entah
kenapa perut saya terasa muaL dan tidak seLera makan sama sekaLi. Masuk angin,
mungkin. Sebuah kesaLahan yang harus dibayar nantinya.

Usai keLompok 1 berangkat sekitar pukuL 07.00, kami yang masih harus
menunggu 1 jam memutuskan untuk beLanja duLu. Beberapa membeLi stiker, prusik,
geLang dan embLem. Moset yang ternyata kondisi kasnya kurang mendukung muLai
mencari sumbangan kesana-sini, sampai ujung-ujungnya ngamen ke pak Dosko. perLu
dicatat, dia benar-benar ngamen, sungguh nyanyi!

Lewat pukuL 8, briefing dan
pemanasan, tos LaLu berangkat. seteLah foto-foto sebentar di depan basecamp, kami muLai meLangkah menyusuri
jaLan aspaL. Di depan kami, gunung itu tinggi menjuLang dengan gagahnya. Dan
disana, di ketinggian 3.078 mdpL ia menanti kami. Puncak Ciremai.

Lost

January 29th, 2008 by hypocrites

Terkadang saya bertanya-tanya, apa yang sedang saya lakukan?
Kenapa saya melakukannya? Apa saya yakin saya benar-benar menginginkannya?

Terkadang saya mendapati diri saya seperti seorang yang
terhenyak, selayak orang yang tertidur di dalam bus dan mendapati dirinya di
tempat yang – well,, bukan
seharusnya.

Terkadang saya seperti tersesat dan terjerumus ke dalam
dunia yang sama sekali asing dan saya tak mengenal seorang pun di sekitar saya.

Terkadang saya tak bisa mengenali diri saya sendiri.

apa yang saya inginkan?

Apa yang saya lakukan?

Siapa saya?

 

Untuk apa saya ada?

(Their) True stories – not mine… so, should I give a damn?

January 29th, 2008 by hypocrites

Saya punya seorang kawan. Bagi saya, dia orang yang sangat luar biasa. Dan saya rasa,
begitu pula bagi sebagian besar orang yang mengenalnya. Bukan hanya parasnya
yang cantik, kepribadiannya pun luar biasa menawan. Sungguh, saya dibuat
terkagum-kagum oleh semangat melayani yang ada dalam dirinya. Seandainya saya
jadi laki-laki pun, dipastikan saya akan jatuh hati padanya.

Tampaknya bukan saya saja yang melihat betapa ia orang yang
luar biasa. Entah berapa pria yang tertarik padanya. Tapi ia bergeming. Sesuatu
yang cukup tidak biasa, memang, di usianya kala itu, seseorang dengan paras
secantik ia, dan senyum serta keceriaan yang menawan, ia belum sekalipun punya
pacar. Yaah.. mungkin dia belum menemukan ‘the
right one
’…

Saat seseorang akhirnya merebut hatinya, saat aura pink mulai terpancar menyelimutinya,
rasanya melihat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya saja membuat saya ikut
berbahagia. Tak pernah, selama 2 tahun mengenalnya, saya melihat ia sedemikian
berseri-seri…

Sayang, bahkan untuk orang sebaik ia, Tuhan tak memberi
jalan yang mudah begitu saja.. rupanya pria yang meraja di hatinya itu berdarah
Jawa, sedangkan ia sendiri terlahir sebagai seorang Batak. Tanpa maksud
menyinggung SARA, rasanya tak mengejutkan bila orang tua kawan saya itu tak
lantas memberi restu….

Namun ada yang membuat hati saya miris. Memang saya ikut
berbahagia saat ia dengan wajah berseri-seri berkata, “Ron, gw lagi in Love sama orang yang kemarin…”, juga
waktu dengan malu-malu ia berbisik,”Ron, gw udah ditembak”

Saya juga merasakan empati saat ia dengan galau
mengatakan,”Belum [jadian] Ron… ngga boleh sama rumah. Beda suku sih…”

Satu pertanyaan lantas muncul mengusik benak saya: kalau
saya ada di posisinya, seperti apa kira-kira jadinya?

Saya benar-benar merasa tidak enak hati pada kawan saya itu
karena sedikit banyak dalam hati saya secara otomatis merangkum semua kisahnya
dalam tiga kata yang datar dan dingin:

Cinta.beda.suku

Rasa-rasanya semua empati ini pun muncul semata-mata karena
memang kami berdua begitu dekat dan saya sedemikian menyayanginya.

Sebelumnya, tak hanya satu-dua kasus semacam ini – either permasalahan suku maupun agama –
yang saya jumpai. Tapi tak sedikit pun saya ambil pusing. Bahkan saat teman
dekat saya sejak SMP curhat tentang pacarnya yang beda agama pun secara
refleks, demi sebentuk self-defense-mechanism,
dalam hati saya mengucap,

“sudah tahu tidak akan berhasil, kenapa dicoba?”

kejam, eh?

Namun saya percaya karma. Rasanya, kelak bila saya yang
mengalami semua itu – permasalahan perbedaan ini, suku maupun agama – orang pun
tak akan ambil pusing. Pun bila bagi saya merupakan pergumulan yang luar biasa
berat, bagi mereka tak

kan

lebih dari “problematika yang dihadapi banyak orang”. Pada akhirnya saya hanya
akan guling-guling sendiri, pusing sendiri.

Yaiyalah, toh itu menyangkut hidup saya seorang, bukan hidup
mereka.

Saya jadi ingat kata-kata teman saya, OcoL:

“terlihat sederhana saat orang lain yang mengalaminya”

Mengena. Dan menohok.

Dan ngomong-ngomong soal karma, sepertinya mulai bekerja..

Ah, sial…. Kenapa harus?

heLLo again,,,

January 14th, 2008 by hypocrites

ternyata tanpa disadari sudah sekian Lama saya ngga meng-apdet bLog saya ini…
padahaL dibiLang sibuk sih engga juga… cuma kemarin sempat hectic sebentar gara2 dikLat STAPALA dan… apa ya… sebenarnya pada intinya saya maLes saja sih… Lagi ngga ada bahan buat dituLis…
sekarang sih bahan ada banyak… tapi berhubung masih nge-hang habis ujian, nanti sajaLah saya karang2nya…
speaking of ujian, thanks God udah keLar… seLama ujian ini saya benar2 merasa Tuhan sering hadir… seriousLy, saya yakin, bahwa sesungguhnya itu bisikan Tuhan saat sedang baca materi ujian dan muncuL suatu perasaan menggeLitik untuk fokus di satu pokok bahasan… seringkaLi saya minta Tuhan, toLong sertai saya… bimbing saya.. dan begituLah… sebenarnya Tuhan benar-benar hadir…
TAPI….
yang namanya saya… kadang petunjuk dari Tuhan itu saya acuhkan begitu saja… iya, nanti dibaca Lagi… baca yang Lain duLu… — berujung Lupa… dan begitu ujian benar2 keLuar… crap!

hmmm… sok reLigius begini ya… padahaL sepertinya sudah hampir sebuLan saya ngga gereja… dan 3 minggu ke depan saya bisa dipastikan ngga bakaL bisa ke Gereja..
minggu ini saya ada Latihan dayung di Gintung… minggu berikutnya mau arung jeram di Cisadane bawah, perhaps… berikutnya Lagi, mau ke gunung Ciremai… hmm…
maaf, ya, Papi….

it’s broken!!!!!

October 16th, 2007 by hypocrites

hampir semua orang mengatakan bahwa perempuan adaLah sebentuk makhLuk dengan yang sangat emosionaL, sensitif, reaktif,, apa sajaLah,,mungkin hampir semua orang itu benar,, saya tidak ingat, apakah saya pernah menangis sejak meninggaLnya kakek saya tahun LaLu, tapi yang jeLas, hari ini saya menangis,, yaaah,, sejujurnya saya sendiri merasa agak konyoL tapi seLama 2-3 menit, air benar-benar mengucur dari kedua mata saya untuk sebuah aLasan super sepeLe,, seorang kawan [tidak perLu disebut namanya kan?] siang tadi berhasiL menindih tas saya sehingga sebuah jepit rambut saya yang berharga yang ada di daLamnya patah jadi dua,, benar kan, sepeLe sekaLi,, memang, jepit rambut itu cantik sekaLi,, dengan bunga kuning besar that looks damned sweet,, [oke, memang terkesan standar kaLau diceritakan secara tertuLis, terutama oLeh orang yang tidak begitu berjodoh dengan deskripsi],, tapi yang sebenarnya membuatnya begitu spesiaL adaLah karena itu pemberian dari seorang kakak kos saya yang,, weLL,, benar-benar dekat dengan saya,, 2 tahun, dan dia benar-benar sudah seperti kakak saya sendiri saja,, september LaLu dia LuLus dan tentu saja puLang ke kampung haLamannya di Lampung,, dan sebeLum dia puLang [sebeLum saya puLang kampung, mudik Lebaran, sebenarnya] dia memberikan jepit itu bersama beberapa barang peninggaLan Lainnya,, she knews i Like it very much - as much as she did,, i know that was why she gave it to me,, saya ingat,, sebenarnya jepit itu sudah bersemayam dengan tenang daLam sebuah kardus,, tapi dia menyuruh pacarnya membongkar kardus itu dengan aLasan dia ingin meLihat jepit itu Lagi dan ingin memakainya di perjaLanan puLang,, pacarnya pun sambiL mengomeL membongkarnya,"yakin ngga mau pakai yang satunya aja?" kakak saya menjawab "ngga, mau yang itu," dan ketika saya pamit keLuar kamarnya, dia menahan saya dan berkata,"ROn2, ini buat kamu aja,, kamu pantes sih, pake ini,," see the point why it means so much to me? waLau saya tahu, sebagian besar orang akan berkomentar,"apa sih, gitu aja Lhooo,," iya, saya sendiri juga akan berkomentar seperti itu kok,, tapi pada kenyataannya, untuk sekaLi ini, saya biarkan diri saya bersikap reaktif and i Let myseLf cry,, for some reason that i, myseLf, don’t understand,, 3 menit kemudian saya paksa rasio saya mengambiL aLih kendaLi dan muLai mencari Lem,, siapa tahu masih bisa diseLamatkan dengan paksa,, tapi kaLau tidak, ya sudah,, memang sudah nasibnya seperti itu,, saya juga tidak bisa minta kawan saya itu menggantinya kan? karena yang sangat berarti bukan jepitnya [waLau memang bagus banget sih!] meLainkan karena itu adaLah pemberian kakak saya,, LagipuLa, paLing-paLing kakak saya itu juga akan cuma tertawa dan berkata "ya udah,," sama seperti reaksi saya padanya ketika dia biLang aksesori pemberian saya duLu hiLang,, -sigh- peLajaran yang saya dapat hari ini: menghadapi suatu ‘kehiLangan’, bersikap reaktif terkadang akan meLegakan dan menyehatkan jiwa,, hanya saja, sangatLah tidak bijaksana membiarkannya berLarut-Larut,, grab your commonsense back and keep yourseLf moving on,, iya, saya tahu, itu juga standar,, tapi terkadang dibutuhkan pengaLaman nyata untuk bisa memahami sesuatu,, just trust me,, dear kawan-saya-yang-menindih-tas-saya-sehingga-jepit-rambut-saya-yang berharga-yang-ada-di-daLamnya-patah-jadi-dua,, saya ngga marah atau apapun sama kamu kok,, saya juga ngga minta ganti kok,, [dan saya tahu, kamu pasti Lebih miLih mati daripada harus nyari begituan],, saya bikin post ini cuma iseng kok,, biar ngga dikatain nge-post-nya angin2an,, ngga punya bahan Lain soaLnya,,